Search

Manusia Pintar

Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia dibuktikan dengan keberadaan akal fikiran atau kecerdasan (intelligence) dalam struktur tubuh manusia.
Kecerdasan manusia memiliki kompleksiti yang sangat rumit dan canggih yang membezakannya dengan kecerdasan yang dimiliki oleh makhluk lain, seperti binatang dan tumbuhan. Dalam diri manusia terdapat beraneka bentuk kecerdasan (multiple intelligences) yang hingga kini masih menjadi bahan penelitian yang tiada habisnya bagi para ahli syaraf dan psikologi. Telah ditemui beberapa jenis kecerdasan manusia, selain kecerdasan intelektual (IQ) yang telah lama diteliti orang, iaitu kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ), serta kecerdasan-kecerdasan yang lainnya.

*Kecerdasan Emosi*
Kecerdasan emosi akan menunjuk kepada suatu kemampuan untuk memahami perasaan diri masing-masing dan perasaan orang lain, kemampuan untuk memotivasi dirinya sendiri, dan menata dengan baik emosi-emosi yang muncul dalam dirinya dan dalam berhubungan dengan orang lain. Sehingga tidak salah jika para ahli ilmu jiwa mengatakan bahwa kecerdasan kognitif (IQ) itu hanya mempunyai peranan 20% dalam kejayaan hidup manusia. Sedangkan selebihnya iaitu 80% akan ditentukan oleh faktor-faktor lain, termasuk di dalamnya faktor yang terpenting adalah kecerdasan emosi (EI). Bahkan Goleman dkk menyebutkan bahwa kecerdasnan kognitif itu hanya mempunyai peranan kedua setelah kecerdasan emosi, dalam menentukan puncak prestasi dalam pekerjaan seseorang.

Kecerdasan emosi memiliki lima unsur pokok yang dibagi dua unsur kecakapan yang harus dibangkitkan secara optimal :
1. Kecakapan Pribadi (Personal Competence) yang meliputi:

a. Kesadaran Diri (Self – Awareness),
mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu masa, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusaan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistik atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Adapun unsur kesadaran diri yang harus diketahui adalah:
a). Kesadaran emosi (emotional awareness), iaitu mengenali emosi diri sendiri dan efeknya.
b). Penilaian diri secara teliti (accurate self-assessment), iaitu mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri.
c). Percaya diri ( self confidence), yaitu keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri
b. Pengaturan Diri (Self Regulation),
iaitu menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga menghasilkan kesan positif kepada pelaksanaan tugas; peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran; mampu segera pulih kembali dari tekanan emosi. Upaya pengaturan diri ini akan optimal jika didukung oleh :
a). Kendali diri (Self Control), yaitu mampu mengelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati yang merusak.
b). Sifat dapat dipercaya (Trustworthiness), yaitu kemampuan untuk memelihara norma kejujuran dan integriti.
c). Kesedaran (Conscientiousness), adalah bertanggung jawab atas kinerja pribadi, tidak menyalahkan orang lain.
d). Adaptabiliti (Adaptability), yaitu keupayaan dalam menghadapi perubahan, tidak kaku atau bisa menerima perubahan positif.
e). Inovasi (Innovation), yaitu mudah menerima perubahan dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru.

c. Motivasi (Motivation),
adalah menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambl inisiatif dan bertidak sangat efektif,serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi. Ada empat kemampuan motivasi yang umumnya dimiliki seseorang, diantaranya adalah :
a). Dorongan berprestasi, yaitu dorongan untuk meningkatkan kemampuan untuk memenuhi standard keunggulan.
b). Komitmen, menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga.
c). Inisiatif, adalah kesiapan untuk memanfaatkan kesempat.
d). Optimisme, adalah kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada beberapa halangan dan suatu ketika kemungkinan kegagalan.

2. Kecakapan Sosial (Social Competence) yang meliputi :

a) Empati (Empathy), adalah merasakan yang dirasakan orang lan, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.
Empati ada tiga macam:
1) Empati kognitif; mengetahui emosi atau suasana hati orang lain.
2) Empati partisipatoris; masuk ke dalam pengalaman subyektif orang lain.
3) Empati afektif; melakukan sesuatu seolah-olah ia berada dalam posisi orang itu : Membangkitkan "emosi" orang lain / memberikan alternative yang lebih baik.
Ciri-ciri empati:
1. Ikut merasakan (sharing feeling), kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain.
2. Dibangun berdasarkan kesadaran diri.
3. Peka terhadap bahasa isyarat.
4. Mengambil peranan atau prilaku konkrit (role taking).
5. Kontrol emosi, menyadari dirinya sedang berempati, tidak larut.

Menurut Golmen ada lima kemampuan empati yang umumnya dimiliki oleh seseorang, yakni:
1. Memahami orang lain (understanding others), yaitu mengidra perasaan perasaan dan perspektif orang lain serta menunjukkan minat-minat terhadap kepentingan-kepentingan mereka.
2. Mengembangkan orang lain (developing others), yaitu mengindra kebutuhan orang lain untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan mereka.
3. Orientasi pelayanan (service orientation), yaitu mengantisipasi, mengakui dan memenuhi keperluan-keperluan pelanggan.
4. Memanfaatkan keragaman (leveraging diversity) , yaitu menumbuhkan kesempatan-kesempatan melalui keragaman pada banyak orang.
5. Kesadaran politik (political awareness), yaitu membaca kecenderungan politik yang sedang berkembang.

b) Keterampilan Sosial (Social Skill),
adalah memahami emosi dengan baik, baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial; berinteraksi dengan lancar; menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam kumpulan. Ada lapan masalah utama yang dihadapi dalam hubungan ~ yaitu: -
Egoisme dan konfrontasi -
Tidak adanya kasih sayang dan kelembutan -
Tidak adanya rasa hormat dan saling menolong -
Mementingkan kepentingan sendiri -
Tidak adanya keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan -
Tidak mengenal kompromi dan mengabaikan kesalahan -
Perasaan tertekan secara emosional -
Kepincangan antara harapan pibadi dan karier.
Untuk membangun hubungan sosial yang harmonis hendaknya memperhatikan dua hal . Pertama, citra diri, maksudnya mempersiapkan diri untuk membangun hubungan sosial. Kedua, kemampuan komunikasi, yakni keberhasilan untuk menjalin hubungan antara personal.

Ada enam kata kunci dalam menjaga hubungan agar tetap hamonis, yaitu :
1. Affection (kasih sayang) : sikap tanpa pamrih, ketulusan untuk menolong.
2. Appreciation (penghargaan): menghargai orang lain sebagaimana adanya.
3. Acknowledgment (pengakuan): mengakui nilai-nilai individualiti seseorang.
4. Absolute (kemutlakan): komitmen secara mutlak untuk menjaga hubungan.
5. Acceptance (penerimaan): memberi kesempatan orang lain untuk berkembang tanpa harus membahayakan hubungan.
6. Action (tindakan) : senantiasa mejaga dan meningkatkan hubungan agar harmonis.

Menurut Golmen, ada lima kecakapan empati yang sebaiknya dimiliki setiap orang yaitu :
1. Pengaruh (influence), yaitu terampil menggunakan taktik untuk melakukan persuasi.
2. Komunikasi (communication), yaitu mendengarkan secara terbuka dan mengirimkan pesan secara meyakinkan.
3. Pengurusan konflik (conflict management), yakni merundingkan dan menyelesaikan ketidaksepakatan.
4. Kepemimpinan (leadership), yaitu mengilhami dan membimbing individu atau kelompok. 5. Katalisator perubahan (change catalyst) yaitu mengawali atau mengelola perubahan.
6. Membangun hubungan (building bonds), yakni menumbuhkan hubungan yang bermanfaat. 7. Kolaborasi dan kooperasi (collaboration and cooperation), yakni menjaga kerjasama dengan orang lain demi tujuan bersama.
8. Kemampuan kumpulan ( team capabilities), menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.

Dipetik dari asal: Drs.Fatah Syuku
Karya asal dalam versi Indonesia

0 Comments:

Post a Comment